Sabtu, 09 Mei 2026

Takut Salah Main Domino, Tapi Tidak Takut Salah Membaca Al-Qur’an

Penulis: Ahmad Firdaus |

Ada fenomena yang tampak sederhana, namun jika direnungkan, sangat mengusik nurani. Sebagian umat begitu berhati-hati dalam hal-hal kecil, seperti bertanya hukum bermain domino—apakah boleh atau tidak, apakah termasuk judi atau sekadar hiburan. Diskusi panjang terjadi, perdebatan muncul, bahkan sampai mencari dalil dan pendapat ulama.


Namun, di sisi lain, sangat jarang terdengar pertanyaan, “Bagaimana cara memperbaiki bacaan Al-Qur’an saya?”, “Apakah Al-Fatihah saya sudah benar?”, “Bagaimana hukum membaca al-Qur’an dengan tajwid yang salah?”

Di sinilah letak persoalannya: bukan pada pertanyaan tentang domino, tapi pada hilangnya prioritas.

Ketimpangan yang Mengkhawatirkan

Bermain domino, pada asalnya adalah perkara mubah. Ia bisa berubah menjadi haram jika ada unsur perjudian atau melalaikan kewajiban.
Sedangkan membaca al-Qur’an adalah ibadah pokok. Bahkan, mempelajari bacaannya dengan benar adalah kewajiban bagi setiap Muslim.

BACA JUGA: Antara Kurban dan Korban

Ironisnya, yang mubah lebih ramai dibahas, sementara yang wajib justru sepi diperjuangkan. Kita menjadi sangat sensitif terhadap kemungkinan dosa dalam permainan, tetapi tidak sensitif terhadap kesalahan dalam membaca kalam Allah.

Indikasi Penyakit Prioritas

Fenomena ini menunjukkan adanya penyakit yang halus namun berbahaya: terbaliknya skala prioritas dalam beragama. Kita khawatir terhadap hal-hal yang dampaknya kecil, namun lalai terhadap hal-hal yang menjadi fondasi ibadah. Padahal kesalahan dalam membaca al-Qur’an—terutama pada bacaan Al-Fatihah—berdampak langsung pada sah atau tidaknya shalat.

Allah mengingatkan dalam firman-Nya, “Maka datang setelah mereka generasi yang menyia-nyiakan shalat…” (Maryam [19]: 59.)

Menyia-nyiakan tidak selalu berarti meninggalkan. Bisa jadi, tidak memperbaiki kualitasnya, tidak serius dalam pelaksanaannya, tidak peduli dengan benar dan salahnya, dan hari ini, kita melihat bentuk lain dari “penyia-nyiaan” itu. Yakni, tidak peduli dengan kualitas bacaan al-Qur’an.

Bukan Melarang Bertanya, Tapi Meluruskan Arah

Perlu ditegaskan bahwa bertanya hukum domino bukanlah kesalahan. Itu bagian dari kehati-hatian dalam beragama. Namun, yang perlu dikoreksi adalah mengapa semangat itu tidak diarahkan pada ibadah yang lebih utama? Mengapa kita tidak gelisah ketika bacaan al-Qur’an kita salah?

Seharusnya semangat bertanya itu diarahkan dari hal yang sekunder menuju hal yang primer, dan dari pelengkap menuju hal yang pokok.

Tugas Para Dai

Fenomena ini bukan hanya kritik, tapi juga peluang dakwah. Umat masih memiliki kesadaran untuk bertanya. Tinggal bagaimana para dai mengarahkan fokus mereka, membangun kesadaran prioritas, menyentuh hati, bukan sekadar memberi hukum.

BACA JUGA: Dunia Bergejolak, Tapi Ada yang Tetap Tenang

Seorang dai bisa menjawab, “Bagus Anda bertanya tentang domino, tapi mari kita mulai dari yang lebih penting: sudahkah bacaan al-Fatihah kita benar?”

Hari ini kita perlu jujur bertanya pada diri sendiri: Mengapa kita takut salah dalam permainan, tetapi tidak takut salah dalam ibadah Mengapa kita mencari hukum untuk hiburan, tetapi tidak mencari ilmu untuk Al-Qur’an?

Jangan sampai kita menjadi generasi yang teliti dalam perkara kecil, namun lalai dalam perkara besar. Karena yang akan kita pertanggungjawabkan di hadapan Allah bukan permainan kita, tetapi ibadah kita. *

(Penulis adalah pimpinan Baznas Kabupaten Bulukumba, Sulsel, 2017-2022)