Dalam banyak narasi populer, pernikahan sering diposisikan sebagai puncak dari cinta, kecocokan, atau sekadar “waktu yang sudah tepat”.
Namun, jika merujuk pada al-Qur'an, terdapat sudut pandang yang lebih mendasar dan sering kali luput dari perhatian, yakni tujuan utama pernikahan adalah ketenangan.
Hal ini ditegaskan dalam surat Ar-Rum ayat 21 “..litaskunû ilaiha” — agar kamu merasa tenang kepadanya. Menariknya, ayat ini tidak diawali dengan konsep cinta atau kebanggaan, melainkan ketenangan sebagai fondasi pertama.
Hal ini ditegaskan dalam surat Ar-Rum ayat 21 “..litaskunû ilaiha” — agar kamu merasa tenang kepadanya. Menariknya, ayat ini tidak diawali dengan konsep cinta atau kebanggaan, melainkan ketenangan sebagai fondasi pertama.
Artinya, pernikahan bukan sekadar ruang untuk menampilkan kebahagiaan, tetapi tempat kembali yang menghadirkan rasa aman secara emosional dan psikologis.
Ketenangan dalam konteks ini bukan berarti tanpa konflik, melainkan hadirnya ruang di mana seseorang tidak perlu berpura-pura kuat, tidak harus menjadi sosok lain, dan tidak diliputi ketakutan akan penilaian, dan rumah menjadi tempat paling aman untuk bercerita.
Fenomena rapuhnya banyak pernikahan hari ini menunjukkan bahwa persoalan utama sering kali bukan pada kurangnya cinta, melainkan hilangnya rasa aman.
Dengan demikian, pernikahan tidak semata tentang menemukan pasangan yang sempurna, tetapi tentang menghadirkan ruang di mana jiwa dapat beristirahat.
Ketenangan dalam konteks ini bukan berarti tanpa konflik, melainkan hadirnya ruang di mana seseorang tidak perlu berpura-pura kuat, tidak harus menjadi sosok lain, dan tidak diliputi ketakutan akan penilaian, dan rumah menjadi tempat paling aman untuk bercerita.
Fenomena rapuhnya banyak pernikahan hari ini menunjukkan bahwa persoalan utama sering kali bukan pada kurangnya cinta, melainkan hilangnya rasa aman.
Dengan demikian, pernikahan tidak semata tentang menemukan pasangan yang sempurna, tetapi tentang menghadirkan ruang di mana jiwa dapat beristirahat.
Di situlah makna mendalam dari “litaskunû ilaiha” menemukan relevansinya—sebuah pengingat bahwa fondasi relasi yang kokoh dimulai dari ketenangan, bukan sekadar perasaan. *
(Penulis adalah mahasiswi STID M Natsir, Jakarta)