Senin, 15 Juni 2026

Belajar Ikhlas di Tengah Luka yang Tak Pernah Dipilih

PenulisBunga Sri Elpika |

Tanggal 11 November 2024 menjadi saat yang tidak pernah hilang dari ingatanku. Hari di mana seseorang yang paling berharga dalam hidupku pulang ke pangkuan Sang Pencipta. Kepergian yang tanpa pamit dan aba-aba, seolah membawa sebagian dari diriku ikut luruh bersamanya.

Ironisnya, hari itu menjadi sesuatu yang pernah kupinta dalam doa. Saat melihat tubuhnya terus merintih menahan rasa sakit yang tak kunjung menemukan ujung. 

Namun ketika hari itu tiba ternyata aku tak pernah benar-benar siap. Meskipun sebelumnya telah mencoba mempersiapkan diri, tetap saja ada ruang yang mempertanyakan takdir. 

Bahkan aku sempat merasa Allah tidak adil. Mengapa harus ayahku? Mengapa harus orang yang paling berharga dalam hidupku?

Kepergian ayah meninggalkan luka yang tidak hanya terasa di hati, namun juga membekas pada kondisi mentalku. Hingga aku sempat menyerah menjalani hidup.

Penyesalan mengahantui setiap langkah dan pikiranku karena tak sempat merawat dan menemani hari tuanya.

Kepergian ayah juga membuatku ketakutan, takut kehilangan mama dengan cara yang sama. Ketakutan itu pernah membuatku berpikir untuk tidak melanjutkan pendidikan dan memilih menemani mama di rumah.

Di tengah kebimbangan, aku teringat pada satu nasehat seorang ustadz. " Jika takdirmu menyaksikan kepergiannya, maka sejauh apa pun kamu berada, Allah akan mengembalikanmu untuk melihat hari itu. Namun jika Allah tidak menakdirkanmu menyaksikan hari terakhirnya, sedekat apa pun kamu, maka kamu tidak akan menemukan hari itu."

Nasihat tersebut mengajarkanku bahwa tidak semua berada dalam kendaliku. Luka itu mungkin masih ada. Rindu juga masih sering datang tanpa permisi. Namun aku belajar bahwa kepergian bukanlah akhir dari semuanya.

Aku tidak bisa mengubah masa lalu atau mengulang waktu yang telah berlalu. Yang bisa kulakukan adalah melanjutkan perjalanan ini dengan sebaik-baiknya, membawa doa dan kenangan.

Sebab pada akhirnya, cinta seorang ayah tidak pernah benar-benar pergi. Ia tetap hidup dalam setiap langkah yang kita ambil untuk mewujudkan harapan-harapan yang pernah ayah doakan untuk anaknya. **

(Penulis adalah mahasiswi STID M Natsir, Jakarta)