Rabu, 15 Juli 2026

Yang Terus Dipromosikan Akan Menjadi Kebutuhan

PenulisAhmad Firdaus |

Tidak semua kebutuhan manusia lahir karena benar-benar dibutuhkan. Banyak kebutuhan tercipta karena terus-menerus ditanamkan dalam pikiran.


Dulu, membeli air minum terasa aneh. Air tersedia di rumah, di sumur, di sungai, atau dimasak sendiri. Namun setelah puluhan tahun dipromosikan, air kemasan menjadi kebutuhan. Orang rela membelinya , bahkan  hingga ke pelosok desa yang realitanya melimpah air minum

Inilah kekuatan pengulangan. Yang terus dilihat, didengar, dibicarakan, dan dipromosikan akan masuk ke dalam hati. Lama-kelamaan menjadi kebiasaan, lalu berubah menjadi kebutuhan.

Lihatlah bagaimana Piala Dunia, liga sepak bola, artis, media sosial, dan berbagai hiburan dipromosikan siang malam. Berita, iklan, diskusi, status, video, dan percakapan hampir semuanya mengarah ke sana. Tidak heran jika jutaan orang hafal nama pemain, jadwal pertandingan, nilai transfer, bahkan rela begadang demi sebuah pertandingan.

BACA JUGA: Ghurur, Penyakit Hati yang Menjangkit Diam-diam

Sebaliknya, berapa banyak yang hafal nama para sahabat Nabi? Berapa banyak yang mengetahui jadwal kajian di masjidnya sendiri? Berapa banyak yang bersemangat menghadiri shalat Subuh berjamaah sebagaimana semangat menunggu kick-off pertandingan?

Ini bukan semata-mata karena sepak bola lebih menarik, tetapi karena ia terus dipromosikan, sedangkan dakwah sering kali kalah dalam menyampaikan kebenaran secara konsisten.

Allah Ta'ala berfirman, "Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman." (Adz-Dzariyat: 55)

Rasulullah ﷺ juga bersabda, "Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat." (Riwayat Bukhari)

Karena itu, jangan bosan mengajak keluarga ke masjid, mengingatkan membaca Al-Qur'an, menghadiri majelis ilmu, dan mencintai sunnah. Kebenaran juga harus terus dipromosikan. Bukan untuk mencari popularitas, tetapi agar hati manusia tetap hidup.

Musuh-musuh agama sangat sabar mempromosikan dunia. Maka para dai, guru, orang tua, dan seluruh kaum muslimin harus lebih sabar lagi mempromosikan akhirat.

Apa yang sering dipromosikan akan memenuhi pikiran. Apa yang memenuhi pikiran akan menguasai hati. Apa yang menguasai hati akan menentukan masa depan seseorang—di dunia dan di akhirat. *

(Penulis adalah Komisioner  BAZNAS Kabupaten Bulukumba 2017-2022)