Selasa, 16 Juni 2026

Ketika Berbagai Kemaksiatan Umat-Umat Terdahulu Berkumpul dalam Satu Zaman

Penulis: Ahmad Firdaus | 

Di antara hadits yang sering disebut para ulama adalah: "Barang siapa berpegang teguh kepada sunnahku ketika rusaknya umatku, maka baginya pahala seratus syahid."

Walaupun derajat hadits ini diperselisihkan oleh para ahli hadits, maknanya menunjukkan betapa besar keutamaan menjaga sunnah ketika manusia banyak meninggalkannya.

Lalu, apa yang dimaksud dengan zaman fasad?

Para ulama menjelaskan bahwa zaman fasad adalah masa ketika kerusakan agama, akhlak, dan perilaku manusia semakin meluas. Kebenaran menjadi asing, kemaksiatan dianggap biasa, sementara orang yang berusaha istiqamah sering dianggap aneh.

Sebagian penceramah menggambarkan zaman fasad sebagai: "Zaman ketika berbagai kemaksiatan yang dahulu menjadi sebab azab bagi umat-umat terdahulu, kini berkumpul dalam satu masyarakat." Walaupun ungkapan ini bukan hadits Nabi ﷺ, maknanya patut direnungkan.

Kaum-kaum yang Diazab dan Penyebabnya

1. Kaum Nabi Nuh 'Alaihissalam

Mereka hidup dalam kesyirikan dan menolak dakwah selama ratusan tahun. Akibatnya Allah menurunkan banjir besar yang menenggelamkan mereka. Hari ini, kesyirikan dalam berbagai bentuk masih ditemukan di tengah masyarakat, meskipun Islam telah datang membawa tauhid.

2. Kaum 'Ad pada Masa Nabi Hud 'Alaihissalam

Mereka terkenal kuat, maju, dan berkuasa. Namun kesombongan membuat mereka menolak kebenaran.
Mereka berkata, "Siapakah yang lebih kuat daripada kami?" (Fussilat: 15)

Allah membinasakan mereka dengan angin yang sangat dahsyat. Kini kesombongan individu, kelompok, jabatan, dan kekayaan menjadi penyakit yang mudah ditemukan.

3. Kaum Tsamud pada Masa Nabi Shalih 'Alaihissalam

Mereka memiliki peradaban maju dan mampu memahat gunung menjadi rumah. Namun mereka mendustakan Nabi Shalih dan membunuh unta mukjizat yang Allah kirimkan.

Allah mengazab mereka dengan suara keras yang mengguncang. Kemajuan teknologi hari ini pun sering tidak diiringi dengan ketaatan kepada Allah.

4. Kaum Nabi Luth 'Alaihissalam

Mereka dikenal karena penyimpangan seksual yang belum pernah dilakukan umat sebelumnya. Allah berfirman, "Mengapa kamu mengerjakan perbuatan keji yang belum pernah dikerjakan seorang pun sebelum kamu?" (Al-A'raf: 80). Akibatnya Allah membalikkan negeri mereka dan menurunkan hujan batu.

5. Kaum Madyan pada Masa Nabi Syu'aib 'Alaihissalam

Mereka ahli perdagangan tetapi gemar menipu timbangan dan takaran. Allah berfirman, "Sempurnakanlah takaran dan timbangan." (Hud: 84).

Mereka diazab karena kecurangan ekonomi yang telah menjadi budaya. Bukankah hari ini praktik penipuan, korupsi, manipulasi, dan ketidakjujuran juga menjadi keluhan di berbagai tempat?

6. Fir'aun pada Masa Nabi Musa 'Alaihissalam

Fir'aun adalah simbol kekuasaan yang melampaui batas. Ia mengaku sebagai tuhan tertinggi dan menindas rakyatnya. Allah menenggelamkannya di laut.

Sikap merasa paling benar, otoriter, dan menyalahgunakan kekuasaan tetap menjadi penyakit manusia sepanjang zaman.

7. Sebagian Bani Israil

Mereka diberi banyak nikmat dan para nabi. Namun sebagian dari mereka terjerumus ke dalam riba, manipulasi agama, dan mengutamakan dunia daripada petunjuk Allah. Karena itu Allah menurunkan berbagai hukuman kepada mereka.

Mengapa Disebut Zaman Fasad?

Ketika kesyirikan kaum Nuh, kesombongan kaum 'Ad, pembangkangan kaum Tsamud, penyimpangan kaum Luth, kecurangan kaum Madyan, kezaliman Fir'aun, dan penyakit Bani Israil dapat ditemukan bersamaan dalam satu zaman, maka kerusakan itu menjadi semakin berat.

Belum lagi ditambah: Penyebaran kebodohan agama; meremehkan sunnah; menganggap dosa sebagai hiburan; dan menjadikan harta dan popularitas sebagai ukuran kemuliaan.

Inilah yang membuat orang beriman merasa asing. Nabi SAW bersabda, "Islam datang dalam keadaan asing dan akan kembali asing sebagaimana awalnya, maka beruntunglah orang-orang yang asing." (Riwayat Muslim)

Tugas Orang Beriman

Menyebut zaman sebagai zaman fasad bukan untuk putus asa. Justru ketika kerusakan meluas, nilai amal saleh menjadi lebih besar. Menjaga shalat, menuntut ilmu, mengajarkan Al-Qur'an, memakmurkan masjid, mendidik keluarga, dan menghidupkan sunnah menjadi amal yang sangat berharga.

Para salaf berkata, "Berpegang teguh pada sunnah di masa fitnah seperti menggenggam bara api."

Karena itu, jangan hanya sibuk menghitung banyaknya kerusakan. Jadilah bagian dari orang-orang yang memperbaiki keadaan. Sebab Allah tidak akan menanyakan seberapa rusak zaman yang kita hadapi, tetapi akan menanyakan apa yang telah kita lakukan untuk memperbaikinya.

Di tengah zaman fasad, satu orang yang menghidupkan Al-Qur'an, mengajarkan sunnah, dan mengajak manusia kepada kebaikan bisa menjadi sebab datangnya rahmat Allah kepada sebuah masyarakat. 

Wallahu a'lam.

(Penulis adalah Komisioner BAZNAS Kabupaten Bulukumba 2017-2022)