Rabu, 05 Agustus 2026

Artemis II dan Langit yang Tak Lagi Sekadar Jauh

Penulis: Alia Novita Sari |

Untuk apa manusia kembali ke Bulan? Pertanyaan itu terasa semakin relevan sejak Artemis II dijadwalkan meluncur pada April 2026. Misi ini akan menjadi penerbangan berawak pertama manusia ke sekitar Bulan sejak era Apollo terakhir pada tahun 1972. Artinya, sudah lebih dari 50 tahun manusia tidak kembali sejauh itu.

Dalam misi ini, NASA mengirim empat astronot menggunakan pesawat Orion. Mereka menempuh perjalanan sekitar 10 hari, mengelilingi Bulan tanpa mendarat, dan mencapai jarak hingga kurang lebih 370.000 kilometer dari Bumi. Ini bukan sekedar perjalanan simbolik, tapi uji nyata sistem pendukung kehidupan, navigasi, dan keselamatan manusia di ruang angkasa jauh.

Misi ini adalah bagian dari Artemis Program, yang menargetkan pendaratan manusia kembali di Bulan melalui Artemis III dalam beberapa tahun ke depan. Bahkan, program ini juga dirancang sebagai pijakan menuju misi manusia ke Mars pada dekade berikutnya. Namun di balik semua angka dan ambisi itu, ada dimensi lain yang sering luput, yaitu cara kita memaknai langit. Dalam Al-Qur’an, langit bukan hanya ruang kosong yang bisa dijelajahi. Ia adalah tanda. Allah berfirman:

"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal." (QS. Ali Imran: 190). Ayat ini seperti memberi konteks pada pencapaian ilmiah tadi. Bahwa sejauh apa pun manusia melangkah, tujuannya bukan sekadar “sampai”, tapi juga “memahami”.

Menariknya, pengalaman empiris para astronot sering sejalan dengan hal ini. Banyak dari mereka melaporkan apa yang disebut overview effect, sebuah perubahan cara pandang ketika melihat Bumi dari luar angkasa. Bumi tampak kecil, tanpa batas negara, dan sangat rapuh. Perspektif ini kerap memunculkan rasa rendah hati dan kesadaran akan keterhubungan seluruh manusia.

Dalam sudut pandang Islam, ini bukan hal asing. Manusia memang diajarkan untuk menyadari posisinya: bukan pusat alam semesta, melainkan bagian kecil dari ciptaan yang sangat luas.

Al-Qur’an bahkan memberi isyarat tentang eksplorasi langit dalam QS. Ar-Rahman: 33, bahwa manusia dapat menembus penjuru langit dengan “kekuatan” yang bisa dimaknai sebagai ilmu pengetahuan. Dalam konteks ini, Artemis II bisa dipandang sebagai hasil dari akumulasi ilmu itu.

Namun tetap ada batas yang tidak boleh dilupakan. Data dan teknologi mungkin terus berkembang, tapi keduanya tidak otomatis menjawab “untuk apa”. Di sinilah peran nilai dan keyakinan menjadi penting.

Jika misi seperti Artemis II menghasilkan teknologi baru, misalnya dalam sistem energi, material tahan panas, atau komunikasi jarak jauh, maka manfaatnya bisa kembali ke Bumi. Ini sudah terbukti dari program luar angkasa sebelumnya yang melahirkan berbagai inovasi yang kita gunakan sehari-hari. Tapi lebih dari itu, ada manfaat yang tidak bisa diukur dengan angka, yaitu suatu kesadaran.

Kembali ke pertanyaan awal: untuk apa manusia kembali ke Bulan? Mungkin jawabannya ada di antara dua hal yaitu ikhtiar dan refleksi. Ikhtiar untuk terus maju, dan refleksi untuk tidak lupa diri.

Pada akhirnya, Artemis II bukan hanya tentang perjalanan sejauh ratusan ribu kilometer. Ia juga tentang perjalanan cara berpikir manusia dari sekadar melihat langit, menjadi merenungi maknanya.

Dan bisa jadi, di tengah dinginnya ruang angkasa, manusia justru menemukan sesuatu yang hangat: kesadaran bahwa di balik luasnya alam semesta, ada kekuasaan yang jauh lebih besar dari semua yang berhasil ia capai. ***

(Penulis adalah mahasiswi STID M Natsir, Jakarta)