Selasa, 18 Agustus 2026

Jangan Menilai Seseorang Hanya dari Suku dan Budayanya

Penulis: Tazqiyatun Nufus Lailatul Mumtas |

Pernahkah kita mendengar kalimat seperti, “Orang Jawa itu pasti lembut,” atau “Orang Batak kalau bicara pasti keras,”

Kalimat-kalimat seperti ini mungkin terdengar biasa. Bahkan, terkadang kita mengucapkannya hanya sebagai candaan. Namun, tanpa disadari, kebiasaan tersebut bisa menjadi bentuk stereotip budaya.

Stereotip adalah anggapan atau penilaian yang diberikan kepada seseorang hanya karena ia berasal dari kelompok tertentu. Masalahnya, anggapan tersebut sering kali tidak melihat orang tersebut sebagai individu. Padahal, setiap orang memiliki sifat dan karakter yang berbeda.

Misalnya, ada anggapan bahwa orang Jawa cenderung pemalu dan sungkan. Sementara itu, orang Batak sering dianggap berbicara dengan nada keras. Ada juga anggapan bahwa orang Minang terkenal pelit, padahal bisa saja sebenarnya mereka hanya pandai mengatur keuangan.

Anggapan seperti ini tidak selalu benar. Seseorang yang berasal dari suku Jawa belum tentu pemalu. Orang Batak yang berbicara dengan nada tegas juga belum tentu sedang marah. Begitu pula orang Minang tidak bisa langsung disebut pelit hanya karena berasal dari suku tersebut.

Inilah yang menjadi masalah dari stereotip. Kita memberikan sebuah “label” kepada seseorang sebelum benar-benar mengenalnya.

Dalam komunikasi antarbudaya, stereotip dapat membuat hubungan menjadi kurang nyaman. Ketika kita sudah memiliki anggapan tertentu terhadap suatu kelompok, kita bisa menjadi lebih sulit menerima orang tersebut apa adanya. Kita mungkin sudah memiliki penilaian sebelum mereka berbicara atau berinteraksi dengan kita.

Bayangkan ada seorang mahasiswa baru yang berasal dari daerah lain. Karena mendengar anggapan bahwa orang dari daerah tersebut sulit bergaul, teman-temannya memilih untuk tidak mendekatinya. Padahal, setelah diajak berbicara, ternyata mahasiswa tersebut justru ramah dan mudah berteman. Artinya, penilaian yang muncul sebelumnya hanya berdasarkan anggapan, bukan pengalaman langsung.

Hal yang sama bisa terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Kita terkadang lebih nyaman berteman dengan orang yang memiliki bahasa, daerah, atau kebiasaan yang sama. Kelompok yang memiliki kesamaan dengan kita terasa lebih dekat, sedangkan kelompok yang berbeda terasa asing.

Makalah menyebut kondisi ini sebagai konsep in-group dan out-group. In-group adalah kelompok yang kita anggap sebagai “kelompok kita”, sedangkan out-group adalah kelompok yang kita anggap sebagai “kelompok mereka”. Dalam komunikasi antarbudaya, kecenderungan tersebut dapat membuat seseorang lebih percaya kepada kelompoknya sendiri dan lebih mudah memberikan stereotip atau prasangka kepada kelompok lain.

Sebenarnya, memiliki budaya sendiri dan merasa bangga terhadap budaya tersebut bukanlah sesuatu yang salah. Kita boleh bangga menjadi orang Jawa, Sunda, Batak, Minang, Bugis, Betawi, atau berasal dari budaya lainnya. Yang menjadi masalah adalah ketika rasa bangga tersebut membuat kita menganggap budaya sendiri paling benar dan merendahkan budaya lain.

Karena itu, mengenal budaya lain menjadi penting. Kita perlu belajar bahwa perbedaan cara berbicara, kebiasaan, bahasa, atau cara berpikir tidak selalu berarti seseorang itu buruk atau aneh. Bisa jadi, mereka hanya tumbuh dalam lingkungan budaya yang berbeda.

Pada akhirnya, komunikasi antarbudaya bukan hanya soal bagaimana kita berbicara dengan orang yang berbeda budaya. Lebih dari itu, komunikasi antarbudaya juga mengajarkan kita untuk melihat orang lain tanpa terburu-buru memberikan label. Sebab, seseorang seharusnya dikenal karena dirinya sendiri, bukan hanya karena suku, daerah, agama, bahasa, atau budaya yang melekat pada dirinya.

Berbeda budaya bukan alasan untuk saling menjauh. Justru dari perbedaan itulah kita bisa belajar memahami orang lain dengan lebih baik. ***

(Penulis adalah mahasiswi STID M Natsir, Jakarta)