Sabtu, 17 Agustus 2019

Saya Menyukai Jurnalistik Karena ...

Sumber: www.mahladi.com. --

Pada Selasa, 23 Juli 2019 pukul 13.30-15.00, saya menyisipkan satu pertanyaan di antara 5 pertanyaan pada ujian akhir semester genap mata kuliah jurnalistik di sebuah perguruan tinggi Islam di Jakarta timur.

Pertanyaannya begini, "Berminatkah Anda untuk menekuni profesi jurnalistik? Jelaskan alasannya." Semua mahasiwa bebas menulis apa saja, bahkan menulis tidak berminat sekalipun.

Rupanya, jawaban mereka sama, yakni berminat. Wajarlah! Mereka sudah memilih jurusan Komunikasi Penyiaran Islam dan Pengembangan Masyarakat Islam. Mereka tentu sudah tahu kalau di jurusan tersebut akan ada mata kuliah jurnalistik.

Hanya saja alasan "mengapa mereka berminat" beragam. Bermacam-macam! Satu mahasiswa bahkan punya dua ---atau bahkan 5 --- alasan yang berbeda, namun saling melengkapi. Dari semua jawaban tersebut, saya kelompokkan menjadi delapan alasan, di mana jawaban seorang mahasiswa bisa berada di tiga kelompok sekaligus.

Berikut delapan alasan tersebut:

Pertama, mereka menganggap jurnalistik sebagai sarana dakwah yang efektif. Jumlah mereka yang menulis alasan ini paling banyak, yakni 54 persen.

Kedua, mereka ingin ikut serta dalam perang opini. Jumlahnya 43 persen, terbanyak kedua. Ketiga, mereka menyukai tantangan dan tertarik untuk berinteraksi dengan banyak orang, terutama orang-orang baru. Jumlahnya 20 persen.

Keempat, mereka memang hobi menulis sejak sebelumnya. Jumlah yang mengemukakan alasan ini 11 persen.

Kelima, mereka meyakini bahwa jurnalistik akan mendidik mereka agar berhati-hati dalam menyampaikan informasi dan bersikap jujur. Jumlahnya sama seperti alasan sebelumnya, yakni 11 persen.

Alasan keenam dan ketujuh, karena penasaran (3 persen) dan meyakini bahwa jurnalis sebuah profesi yang mulia dan ladang amal jariah (6 persen).

Yang menarik, alasan kedelapan. Mereka tertarik dengan jurnalistik, tapi masih merasa tidak percaya diri untuk menggeluti bidang ini, dan menyadari bahwa dakwah lewat jurnalistik punya kelemahan, yakni tak akan bisa intens berkomunikasi dengan mad'u.  Jumlah mereka yang memiliki alasan kedelapan ini 9 persen. ***