Minggu, 18 Januari 2026

Dari Keterpurukan Menuju Kemajuan: Pelajaran dari Singapura

Penulis: Anita | 

Hari ini Singapura dikenal sebagai salah satu negara paling maju di dunia. Namun, di balik kemegahan tersebut tersimpan sejarah keterpurukan yang kerap luput dari perhatian. Ketika memproklamasikan kemerdekaannya pada tahun 1965, Singapura berada dalam kondisi yang jauh dari ideal. 

Negara kecil ini tidak memiliki sumber daya alam, tingkat pengangguran tinggi, kemiskinan merajalela, konflik sosial antar etnis kerap terjadi, serta infrastruktur yang sangat terbatas. Pada masa itu, banyak pihak meragukan kemampuan Singapura untuk bertahan sebagai negara merdeka.

Keterpurukan tersebut menempatkan Singapura pada situasi yang serba tidak pasti. Tanpa kekayaan alam dan pasar domestik yang besar, Singapura tidak memiliki modal konvensional untuk membangun ekonominya. Pilihan yang tersedia hanya dua: terus terjebak dalam krisis atau melakukan perubahan besar secara menyeluruh. 

Pemerintah Singapura memilih jalan yang tidak populer, yakni melakukan penataan ulang sistem negara secara ketat dan disiplin, meskipun harus dibayar dengan kebijakan yang keras dan konsistensi tinggi.

Langkah awal yang diambil adalah membangun fondasi pembangunan jangka panjang melalui pendidikan dan peningkatan kualitas sumber daya manusia. Pendidikan tidak dipandang sebagai beban anggaran, melainkan sebagai investasi strategis. 

Di saat yang sama, hukum ditegakkan secara tegas dan praktik korupsi ditekan hingga ke titik terendah. Kepastian hukum dan tata kelola pemerintahan yang bersih kemudian menciptakan stabilitas, yang menjadi prasyarat utama bagi pertumbuhan ekonomi.

Perubahan struktural tersebut diikuti oleh perubahan mentalitas masyarakat. Disiplin, ketepatan waktu, dan budaya kerja keras tidak muncul secara alami, tetapi dibentuk melalui kebijakan, keteladanan, dan penegakan aturan yang konsisten. 

Lambat laun, keterpurukan yang sebelumnya menjadi beban berubah menjadi kekuatan. Singapura menjadikan keterbatasan sebagai alasan untuk bekerja lebih efisien, lebih terukur, dan lebih profesional.

Pengalaman Singapura menunjukkan bahwa kemajuan sebuah negara tidak selalu bergantung pada kekayaan alam. Banyak negara memiliki sumber daya melimpah, tetapi gagal mengelolanya karena lemahnya tata kelola dan rendahnya disiplin publik. Sebaliknya, Singapura yang minim sumber daya justru mampu melompat jauh karena berhasil membangun sistem yang efektif dan budaya tanggung jawab kolektif.

Kisah Singapura menjadi pengingat bahwa keterpurukan bukanlah akhir dari perjalanan sebuah bangsa. Krisis dapat menjadi titik balik apabila direspons dengan keberanian untuk berubah dan keseriusan dalam membangun sistem yang berkelanjutan. 

Bagi negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, pelajaran terpenting bukan terletak pada hasil akhir yang dicapai Singapura, melainkan pada proses panjang keluar dari keterpurukan melalui pembenahan sistem, mentalitas, dan kepemimpinan. *

(Penulis adalah mahasiswi STID M Natsir, Jakarta)