Minggu, 18 Januari 2026

Swiss dan Geopolitik Netralitas

Penulis: Ellenda Shenia |

Sebagai seorang mahasiswi, saya sering mempertanyakan bagaimana bisa negara kecil seperti Swiss mampu bertahan di tengah pusaran geopolitik dunia yang penuh konflik. Netralitas Swiss bukan sekadar slogan, tapi sebuah strategi yang telah membentuk identitas nasional mereka selama berabad-abad. 

Dalam opini ini, saya akan membahas bagaimana netralitas Swiss berperan dalam geopolitik global, dengan menyertakan data historis dan kontemporer, serta perbandingan singkat dengan negara netral lain. Saya juga akan mengaitkannya dengan situasi dunia saat ini, seperti perang Rusia-Ukraina, yang semakin menantang konsep netralitas tradisional.

Netralitas Swiss bukanlah suatu yang baru, ia berakar dari kekalahan Konfederasi Swiss di Pertempuran Marignano pada 1515, yang membuat mereka memilih jalan damai daripada ekspansi militer.[1] Secara resmi, netralitas ini diakui secara internasional melalui Kongres Vienna pada 1815, pasca-Perang Napoleon, di mana kekuatan Eropa besar seperti Prancis, Inggris, dan Rusia menjamin status netral Swiss. 

Sejak saat itu, Swiss tidak terlibat dalam perang internasional, meskipun mereka mempertahankan kebijakan "netralitas bersenjata" (armed neutrality), yang berarti mereka memiliki militer kuat untuk pertahanan diri. Data menunjukkan bahwa Swiss terakhir kali berperang pada 1815, dan selama Perang Dunia I dan II, mereka berhasil menjaga netralitas dengan mobilisasi tentara dan penerimaan pengungsi.[2]

Pada abad ke-20, netralitas ini semakin dilembagakan. contohnya, pada 1920, Swiss bergabung dengan Liga Bangsa-Bangsa, tapi dengan pengecualian dari kewajiban militer. Namun, pada referendum 1986, sekitar 75% pemilih menolak keanggotaan PBB karena khawatir mengganggu netralitas. 

Baru pada 2002, Swiss bergabung dengan PBB setelah referendum yang mendukungnya. Ini menunjukkan betapa netralitas bukan hanya kebijakan luar negeri, tapi juga bagian dari identitas nasional Swiss, yang sering disebut sebagai "konsep sukses" karena telah membawa stabilitas ekonomi dan diplomasi.[3]

Tantangan dari Konflik Ukraina

Di tengah situasi dunia yang semakin tidak stabil, netralitas Swiss telah melewati pengujian secara serius. Perang Rusia-Ukraina sejak Februari 2022 telah memaksa Swiss untuk merevisi interpretasi netralitasnya. Meskipun tetap netral secara militer, Swiss telah mengadopsi sanksi Uni Eropa terhadap Rusia, termasuk pembekuan aset oligarki Rusia dan larangan ekspor senjata ke zona konflik. 

Data dari survei 2024 menunjukkan bahwa 91% warga Swiss masih mendukung netralitas, tapi ada tekanan dari publik dan politik untuk lebih dekat dengan Barat.[4] Bahkan, Kepala Angkatan Bersenjata Swiss, Thomas Süssli, pada Desember 2025 menyatakan bahwa Swiss tidak mampu menahan serangan skala penuh, dan netralitas saja tidak cukup sebagai perlindungan, mengingat intelijen Eropa memprediksi Rusia bisa memperluas perang di luar Ukraina pada akhir dekade ini.

Ini terkait dengan tren global: Ketegangan antara blok Barat (NATO dan UE) dengan Rusia dan Cina membuat netralitas semakin sulit dipertahankan. Swiss, sebagai tuan rumah organisasi seperti Palang Merah Internasional dan markas besar PBB di Jenewa, memanfaatkan netralitas untuk peran mediator. 

Namun, kritik muncul karena Swiss dianggap "kehilangan kredibilitas" sebagai mediator setelah bergabung dengan sanksi, seperti yang dikritik oleh Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov pada September 2025. 

Di sisi lain, laporan Kementerian Pertahanan Swiss pada Agustus 2024 merekomendasikan kerjasama militer dengan NATO dan UE untuk "kemampuan pertahanan bersama", tanpa meninggalkan netralitas sepenuhnya. Data ekonomi juga relevan: Swiss memiliki PDB per kapita tertinggi di Eropa (sekitar $92.000 pada 2025), sebagian berkat netralitas yang menarik investasi asing dan perbankan global, tapi konflik global seperti Ukraina mengancam stabilitas ini.

Perbandingan Geopolitik Negara Netral Lain

Untuk memahami posisi Swiss, mari kita bandingkan dengan negara netral lain di Eropa. Austria, misalnya, mengadopsi netralitas pada 1955 melalui Perjanjian Negara Austria, yang menjamin kemerdekaannya pasca-Perang Dunia II. 

Mirip Swiss, Austria mempertahankan militer untuk pertahanan, tapi sebagai anggota UE sejak 1995, netralitasnya lebih "terintegrasi" dengan Kebijakan Luar Negeri dan Keamanan Bersama UE (CFSP), yang membuatnya kurang ketat dibanding Swiss yang tidak bergabung UE. 

Data militer: Austria memiliki sekitar 25.000 tentara aktif, sementara Swiss punya 140.000 (termasuk cadangan wajib militer), menunjukkan komitmen "netralitas bersenjata" Swiss yang lebih kuat.[5]

Swedia dan Finlandia dulu netral, tapi invasi Rusia ke Ukraina mendorong mereka bergabung NATO pada 2023-2024. Swedia meninggalkan netralitas 200 tahun karena ancaman Rusia, sementara Irlandia tetap netral tapi bergabung UE, dengan fokus pada misi perdamaian PBB daripada aliansi militer. 

Perbandingan ini menunjukkan bahwa netralitas Swiss lebih "murni" dan berbasis referendum rakyat, tapi kurang fleksibel dibanding Austria atau Irlandia yang terintegrasi dengan UE. Di era multipolar saat ini, dengan persaingan AS-Cina dan konflik Ukraina, negara seperti Swedia memilih aliansi untuk keamanan, sementara Swiss masih ragu karena dukungan publik yang tinggi terhadap netralitas.

Netralitas Sebagai Aset, Bukan Beban

Dalam opini saya, netralitas Swiss tetap menjadi kekuatan geopolitik di dunia yang terpolarisasi seperti sekarang. Ia memungkinkan Swiss berperan sebagai "jembatan" diplomasi, seperti dalam negosiasi iklim atau kemanusiaan. 

Namun, data dari konflik Ukraina menunjukkan bahwa netralitas pasif tidak cukup; Swiss perlu kerjasama dengan NATO tanpa kehilangan esensinya, seperti yang direkomendasikan panel ahli pada 2024. 

Dibandingkan negara lain, Swiss bisa belajar dari Austria yang menyeimbangkan netralitas dengan integrasi Eropa. Di tengah ketegangan global dari perang Ukraina hingga persaingan Indo-Pasifik netralitas bukan akhir, tapi alat adaptif untuk bertahan. 

Sebagai mahasiswi, saya yakin Swiss bisa mempertahankan warisannya sambil berkontribusi lebih aktif untuk perdamaian dunia.

Sumber:
[1] https://koran-jakarta.com/2024-10-30/mengapa-swiss-memilih-jadi-negara-netral
[2] https://www.americanswiss.org/switzerlands-neutrality-and-security-policy/
[3] https://www.britannica.com/place/Switzerland/The-postwar-period
[4] https://www.kompas.id/artikel/kohesivitas-warga-melebihi-kinerja-elite
[5] https://repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/

(Penulis adalah mahasiswi STID M Natsir Jakarta)