Penulis: Nurul Hikmah |
Setiap ide yang terlintas di benak adalah anugerah yang datangnya tak terduga, seperti rintik hujan pertama di musim kemarau. Iman Al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin mengibaratkan hati seperti cermin. Jika cermin itu bersih, cahaya kebenaran Ilham atau ide akan terpantul ke dalamnya secara seketika atas izin Allah.
Maka jangan biarkan ia menguap begitu saja, segera ikatlah gagasan tersebut dalam catatan agar tidak hilang ditelan waktu. Setelah ide itu tertuang, luangkanlah waktu sejenak untuk menilik kembali setiap kata, memperbaiki ejaan yang keliru, dan memastikan pesan yang ingin disampaikan dapat diterima dengan jernih.
Setelah karya tersebut dipublikasikan, lepaskanlah ia dengan penuh keikhlasan. Jangan membelenggu diri dengan kegelisahan mengenai berapa banyak pasang mata yang membaca atau berapa banyak jempol yang memberikan tanda suka.
Jika kita hanya terpaku pada angka dan validasi duniawi, energi kreatif kita akan terkuras habis oleh rasa cemas. Kembalilah pada niat awal, apakah kita menulis untuk dipuja, ataukah kita menulis sebagai bentuk pengabdian untuk menyebarkan ilmu yang bermanfaat?
Waktu adalah modal berharga yang tak akan pernah kembali, maka alangkah ruginya jika sisa hari kita habis hanya untuk memantau karya yang telah berlalu.
Gunakanlah sisa energi untuk menggali inspirasi baru, pikirkanlah gagasan selanjutnya yang sedang menanti untuk dilahirkan. Dengan melupakan apa yang sudah selesai, kita memberi ruang bagi diri sendiri untuk terus bertumbuh, berkarya, dan menjaga produktivitas agar setiap detik kehidupan tidak terbuang dengan sia-sia.
Terakhir, sadarilah bahwa menulis bagi seorang muslim adalah sebuah bentuk perjuangan intelektual. Kita tidak boleh membiarkan rujukan ilmu agama dan pemikiran kritis didominasi oleh pihak-pihak yang tidak memahami keindahan Islam yang sesungguhnya.
Adalah sebuah ironi jika umat ini justru mencari kebenaran dari tangan-tangan yang berseberangan dengan nilai-nilai tauhid. Oleh karena itu, belajarlah menulis dengan sungguh-sungguh, hasilkanlah karya yang berbobot, dan jadikan jemarimu sebagai saksi di akhirat nanti. *
(Penulis adalah mahasiswi STID M Natsir, Jakarta)