Penulis: Salsabila Kaliky |
Sebulan terakhir, sebuah film berjudul Ghost in the Cell tengah booming di Indonesia. Film horor karya Joko Anwar ini berhasil menarik perhatian distributor global dan telah dibeli serta didistribusikan ke 86 negara. Keberhasilan tersebut didukung oleh kualitas produksinya yang tinggi serta tema universal tentang keadilan dan sistem pemerintahan.
Di Indonesia, film ini sukses meraih satu juta penonton hanya dalam enam hari penayangan. Hal tersebut menunjukkan antusiasme publik yang sangat besar. Kehadiran Ghost in the Cell menjadi harapan baru bagi industri perfilman Indonesia sekaligus membuka jalan bagi film-film lokal untuk bersinar di kancah internasional.
Selain itu, salah satu hal yang membuat publik tertarik adalah keberanian film ini dalam menggabungkan komedi gelap, satire sosial yang tajam, dan horor supranatural yang mencekam.
Melalui akun Instagram pribadinya, Joko Anwar mengunggah sinopsis film tersebut. Ghost in the Cell menceritakan suasana di Lapas Labuan Angsana, tempat para narapidana hidup di tengah penindasan pejabat lapas, permusuhan, dan kekerasan antartahanan. Konflik mulai memuncak ketika seorang narapidana baru yang berprofesi sebagai wartawan masuk ke dalam lapas. Setelah itu, satu per satu napi tewas dengan cara mengerikan.
Para penghuni lapas kemudian menyadari bahwa kematian tersebut disebabkan oleh entitas gaib yang membunuh orang-orang dengan aura atau energi negatif. Hantu tersebut lahir dari luka ekologis akibat hutan Kalimantan yang dirusak dan ditebangi demi keserakahan manusia.
Sejak saat itu, para napi berlomba-lomba berbuat baik agar aura mereka tetap positif di tengah penjara yang penuh ketidakadilan. Hingga akhirnya mereka menyadari satu hal yang tampaknya mustahil, tetapi harus dilakukan agar tetap hidup: bersatu melawan para penindas, bahkan jika musuhnya adalah hantu sekalipun.
Tidak hanya menghadirkan film, Joko Anwar juga membuat instalasi macabre art, yaitu aliran seni yang mengeksplorasi tema-tema kelam, mengerikan, dan berkaitan dengan kematian, penyakit, serta tubuh manusia. Dalam konteks ini, macabre art bukan sekadar menampilkan kengerian, melainkan juga menjadi metafora dan kritik sosial terhadap ketidakadilan, kekuasaan, serta sisi gelap manusia.
BACA JUGA: Antara Kurban dan Korban
Pameran tersebut dibuka untuk umum. Dalam Ghost in the Cell, tubuh-tubuh manusia yang serakah dan memiliki aura negatif dibentuk ulang menjadi instalasi seni. Di dalam film, karya-karya tersebut hadir sebagai bagian dari narasi horor dan kritik sosial. Namun, melalui pameran ini, karya-karya itu dipindahkan keluar dari layar dan dihadirkan ke dunia nyata agar dapat dialami secara fisik, personal, dan langsung oleh pengunjung.
Joko Anwar dikenal sebagai sutradara dan penulis Indonesia yang kerap memadukan unsur horor, thriller, dan kritik sosial dalam karya-karyanya. Dalam film ini, ia mengembangkan konsep macabre art sebagai visualisasi dosa sosial, ketidakadilan, dan kekerasan ekologis yang diwujudkan melalui tubuh manusia.
Melalui instalasi tersebut, pengalaman sinema diperluas menjadi ruang fisik yang dapat dihadapi secara langsung oleh para pengunjung.
Beberapa waktu lalu, penulis berkesempatan mengunjungi pameran tersebut di Nirmala Falatehan Blok M, Jakarta Selatan. Di sana, penulis menyaksikan secara langsung karya-karya macabre art yang mengerikan, tetapi sarat makna. Tidak hanya menampilkan instalasi visual, setiap karya juga dilengkapi dengan papan penjelasan mengenai pesan yang ingin disampaikan.
Karya-karya tersebut menjadi representasi suara yang dibungkam dan kritik sosial yang sering kali tidak didengar. Berikut beberapa karya macabre art yang menarik perhatian:
1. The Fan
Karya ini menampilkan tubuh manusia yang digantung pada kipas angin langit-langit, dengan bagian organ tubuh melilit di sekitarnya.
Tubuh manusia diperlakukan layaknya mesin sirkulasi. Dalam konteks //Ghost in the Cell, karya ini merepresentasikan siklus kekerasan sosial yang terus berulang dan dinormalisasi.
Korupsi, eksploitasi, dan penyalahgunaan kekuasaan tidak pernah benar-benar berhenti. Semua itu hanya berputar, berpindah bentuk, dan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Kipas angin yang seharusnya memberikan kesejukan justru menjadi simbol penyebar bau kematian.
2. Flood Light
Karya ini menampilkan tubuh manusia yang digantung dengan senter besar tertancap di wajahnya sehingga tubuh tersebut berubah menjadi sumber cahaya. Dalam instalasi ini, manusia tidak lagi memiliki identitas selain sebagai alat untuk menerangi sesuatu yang lain.
Karya ini berbicara tentang eksploitasi tubuh dan perhatian publik. Dalam dunia modern, manusia kerap dikorbankan agar sistem, institusi, atau figur berkuasa tetap terlihat bersinar.
Instalasi ini juga memberikan makna baru tentang cahaya yang tidak selalu identik dengan kebenaran, tetapi bisa menjadi alat untuk mengalihkan perhatian dari kekerasan yang terjadi di baliknya.
3. Lady Justice
Karya ini terinspirasi dari Themis, sosok dewi keadilan dalam mitologi Yunani. Instalasi tersebut menghadirkan tubuh manusia yang dipotong dan dibentuk menjadi sosok “Lady Justice”. Namun, simbol-simbol keadilan di dalamnya mengalami distorsi yang brutal.
Mata dan telinga ditempatkan di atas timbangan sebagai simbol keadilan yang tidak lagi melihat dan mendengar manusia, melainkan hanya menimbang kepentingan. Pedangnya terbuat dari uang kertas, sementara kepalanya diinjak oleh tubuhnya sendiri.
Dalam Ghost in the Cell, karya ini merepresentasikan sistem hukum dan kekuasaan yang telah kehilangan fungsi moralnya. Keadilan tidak lagi menjadi sesuatu yang hidup, melainkan monumen kosong yang dibangun di atas kekerasan, uang, dan pengorbanan manusia. *
(Penulis adalah mahasiswi STID M Natsir, Jakarta)