Kamis, 23 Mei 2024

Aku Fitnah Terburuk atau Perhiasan Terindah

Penulis: Selviana Wulandari |

Ada cukup banyak ayat al-Qur'an dan Hadits Rasulullah saw yang bercerita tentang wanita. Dua di antaranya berkisah tentang wanita sholehah.


Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhuma berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (saw) bersabda:

الدُّنْيَا مَتَاعٌ وَخَيْرُ مَتَاعِ الدُّنْيَا الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ

“Sesungguhnya dunia itu adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita sholehah.” (Riwayat Muslim, no. 1467)

Allah Ta'ala berfirman dalam Al-Qur'an surah An-nisa ayat 34:
 
 فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ

“Sebab itu maka wanita yang sholehah ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka).”

Dalam ayat di atas Allah Ta'ala memberitahukan kepada kita bahwa wanita sholehah adalah wanita yang senantiasa taat kepada Allah, menjalankan segala perintahnya, menjauhi larangannya, mengikuti sunnah Rasulullah saw, dan menjaga dirinya dan aib suaminya ketika suaminya tidak berada di rumah.

Menurut Muhammad Abduh Tuasikal, dalam situs Rumaysho.com, wanita sholehah adalah wanita yang cantik luar dan dalam. Adapun sifatnya yaitu: (1) enak dipandang suami karena kecantikan dan penjagaan agamanya, (2) ia berkhidmat dengan baik pada suaminya saat diperintah dengan perintah syari maupun urfi, (3) menjaga diri dengan baik ketika suaminya pergi. Keterangan tentang ini terdapat pula dalam dalam ‘Aun Al-Ma’bud Syarh Sunan Abi Daud.

Lalu siapakah aku? Mari kita simak penuturan Ustadzah Kusumawati, Lc dalam sebuah webinar remaja. Kata beliau, "Aku adalah makhluk Allah yang diciptakan dari tulang rusuk yang paling bengkok, yang tak bisa diluruskan dengan kekerasan dan jika didiamkan maka akan senantiasa bengkok. Inilah kekuranganku. Allah menciptakanku dengan akal dan agama yang kurang, sehingga persaksianku tidak diterima jikalau hanya seorang."

"Aku adalah fitnah terbesar, maka dengan segala kelemahanku, menjadi sebuah catatan bahwa dengan segala kekurangan yang aku miliki namun bisa menjadi fitnah terbesar bagi laki-laki. Namun, di balik kekuranganku ini, terdapat banyak kelebihan yang tidak diberikan kepada laki-laki. Maka hendaklah aku harus menjadi perhiasan yang indah, yang senantiasa dicintai oleh manusia, dicari oleh manusia karena berharganya aku."

"Aku juga bisa menjadi harta yang sangat berharga jika aku bisa membantu keimanan suamiku. Aku bisa memilih pintu surga manapun, jika aku mampu menjaga shalatku, puasaku, dan taat terhadap suamiku. Maka, hendaklah aku menjadi sholehah jika tidak ingin menjadi yang satunya."

Dari penuturan ini kita bisa paham bahwa yang menentukan siapa diri kita, apakah kita adalah fitnah atau perhiasan, tak lain diri kita sendiri. Jika tak ingin menjadi fitnah maka senantiasalah mengerjakan perintah Allah dan menjauhi segala larangannya, mengikuti Sunnah Rasulullah Saw, serta senantiasa taat kepada suami selama apa yang dia perintahkan tidak bertentangan dengan syariat. 

Wallahua'lam. ***

(Penulis adalah mahasiswi STID M Natsir, Jakarta)