Kamis, 30 April 2026

Mendengar Pesan di Balik Rintik

Penulis: Eka Susilawati |

Hujan adalah fenomena paling akrab dalam hidup kita. Ada yang menyambutnya dengan syukur, ada yang menggerutu karena jemuran tak kering. Tapi pernahkah kita sadar, tetesan air yang sama bisa jadi sumber kehidupan sekaligus pemusnah peradaban? Kisah Nabi Nuh Alaihissalam ribuan tahun lalu memberi kita pelajaran paling lengkap tentang dua wajah hujan.

Foto: Pixabay.com

Hujan yang menjadi rahmat dan bisa menjadi musibah. Hujan bagi orang-orang sholih adalah rahmat dari Allah. Ia datang sesuai dengan kadarnya meresap ke tanah, kemudian dari sanalah tanaman tumbuh dengan suburnya. 

Sebagaimana dalam al-Qur'an surat al-Qamar ayat 11 dan 12, Allah Subhanahu wa ta'ala berfirman,
"Maka Kami bukakan pintu-pintu langit dengan air yang tercurah. Dan Kami jadikan bumi memancarkan mata air-mata air, maka bertemulah air-air itu untuk satu urusan yang sungguh telah ditetapkan.

Namun, dengan hujan ini pula, Allah Ta'ala jadikan sebagai musibah atau teguran untuk hamba-hamba-Nya yang melampaui batas. Kisah Nabi Nuh yang berdakwah selama 950 tahun, tapi mendapatkan penolakan dari kaumnya. Beliau dihina, bahkan masyarakat yang beliau dakwahi tetap menyembah berhala. 

Di saat itulah Allah Ta'ala menjadikan hujan sebagian musibah bagi umat beliau. Kapal yang Nabi Nuh bangun di atas bukit menjadi bahan tertawaan. “Untuk apa kapal kalau tidak ada laut?” kata mereka. Logika manusia saat itu mentok. Mereka lupa, yang menciptakan hukum alam bisa mengubahnya kapan saja.

Yang selamat dari banjir besar hanya Nabi Nuh dan orang-orang beriman yang naik bahtera. Bahkan anaknya sendiri, Kan’an, yang memilih lari ke gunung pun tenggelam. Teknologi, jabatan, dan gunung tinggi tak berarti saat perintah Allah turun.

Ada beberapa pelajaran yang bisa kita ambil dari hujan dan kisah Nabi Nuh. Pertama, hujan sesungguhnya adalah rahmat. Sebab, selama 950 tahun kaum Nabi Nuh didakwahi, tetap mereka diberi hujan oleh Allah Ta'ala. Dari hujan itu tumbuhlah tanaman yang bisa dimakan. Allah Maha Pengasih. Azab tidak langsung turun. Kita selalu diberi waktu untuk kembali.

Kedua, peringatan. Proses pembuatan bahtera bertahun-tahun adalah “kode alam”. Hujan kecil, musim aneh mungkin sudah jadi tanda. Bencana iklim, banjir, kemarau panjang yang terjadi hari ini, bisa jadi teguran. Alam sedang “bicara”.

Ketiga, azab. Air yang biasa menghidupi berubah menjadi tentara Allah yang menenggelamkan peradaban. Kekuatan alam tunduk pada Pemiliknya. Kesombongan manusia yang menyatakan “Ini cuma fenomena alam” bisa runtuh seketika.

Keempat, pembersih. Setelah banjir surut, bumi bersih dari kezaliman. Peradaban dimulai ulang dari orang-orang beriman.

Kisah Nabi Nuh bukan dongeng bencana. Ia adalah cermin. Hujan hari ini mengajari kita 3 hal: Tawadhu di depan alam; bahtera kita adalah ketaatan; dan jangan tertawa pada peringatan.

Oleh karena itu, ketika hujan turun, berhentilah sejenak. Kalau ia rintik dan sejuk, ucap syukur. Itu adalah rahmat. Kalau ia deras dan mencekam, ucapkan istighfar. Mungkin itu teguran. Sebab, tetes yang sama pernah mengangkat bahtera Nabi Nuh, dan juga menenggelamkan sebuah dunia yang ingkar.

Dan Nuh berkata: Naiklah kamu sekalian ke dalamnya dengan menyebut nama Allah di waktu berlayar dan berlabuhnya. Sesungguhnya Tuhanku benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Hud: 41).

Wallahu a'lam. *

(Penulis adalah mahasiswi STID M Natsir, Jakarta)