Kamis, 30 April 2026

Dunia Bergejolak, Tapi Ada yang Tetap Tenang

Penulis: Ahmad Firdaus |

Di layar-layar berita, dunia tampak menegangkan. Konflik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel bukan sekadar perang biasa. Ia menyeret kepentingan besar: geopolitik, kekuatan militer, hingga urat nadi ekonomi dunia—minyak.


Selat strategis terancam. Harga energi bergejolak. Negara-negara bersiap menghadapi dampak lanjutan. Dunia seakan berdiri di atas kegelisahan.

Namun, di sudut lain bumi, kehidupan berjalan seperti biasa. Ada seorang lelaki tua yang tetap menarik becaknya di pagi hari. Ada petani yang memanggul cangkul menuju sawah tanpa memikirkan harga minyak dunia. 

Ada guru mengaji yang duduk di lantai masjid, membimbing anak-anak melafalkan ayat demi ayat Al-Qur’an. Dan, ada orang-orang yang melangkah pelan menuju masjid, membawa sajadah, seakan dunia ini tidak sedang gonjang-ganjing.

Apakah mereka tidak tahu apa yang terjadi? Atau, justru mereka tahu sesuatu yang lebih dalam?

Ketika Dunia Tak Lagi Menentukan Ketenangan

Banyak orang hari ini menggantungkan ketenangan pada stabilitas dunia. Jika ekonomi baik, mereka tenang. Jika politik stabil, mereka merasa aman. Jika harga-harga terkendali, mereka bisa tersenyum.

Namun, ketika semua itu goyah, hati pun ikut goyah. Padahal, dalam pandangan iman, ketenangan tidak pernah bergantung pada dunia. Ia bergantung pada siapa yang menguasai hati. Allah Ta'ala berfirman,
“Dialah yang menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang beriman…” (QS. Al-Fath: 4).


Ayat ini tidak mengatakan bahwa Allah menenangkan dunia. Tapi, Allah menenangkan hati. Artinya, dunia boleh kacau, namun hati seorang mukmin bisa tetap damai.

Sakinah di Tengah Kekacauan

Ketenangan yang kita saksikan pada orang-orang sederhana itu bukanlah ketidaktahuan. Ia adalah sakinah—ketenangan yang Allah turunkan.

Sakinah membuat seseorang tidak mudah panik oleh berita, tidak tenggelam dalam ketakutan global, dan tidak kehilangan arah hidup. Ia tahu dunia ini sementara. Ia tahu bahwa rezeki bukan ditentukan oleh konflik global, tapi oleh Allah.

Ia tahu bahwa tugasnya bukan mengendalikan dunia, tapi mengendalikan dirinya agar tetap taat.
Karena itu, ia tetap bekerja. Ia tetap beribadah. Ia tetap menjalani hidup dengan wajar.

Siapa yang Sebenarnya Lebih Selamat?

Hari ini, ada dua jenis manusia: Pertama, mereka yang setiap hari mengikuti perkembangan dunia,
tapi hatinya penuh kecemasan. Kedua, mereka yang mungkin tidak terlalu mengikuti detail geopolitik,
tapi hatinya tenang karena dekat dengan Allah.

Pertanyaannya: Siapa yang lebih selamat? Apakah yang tahu segalanya tapi gelisah? Ataukah yang sederhana tapi hatinya damai? 

Islam tidak melarang memahami dunia. Namun Islam mengingatkan: jangan sampai dunia menguasai hati. 

Pelajaran Besar dari Kehidupan Sederhana

Apa yang kita lihat di kampung-kampung, di masjid-masjid kecil, di sawah-sawah, adalah pelajaran besar: Adzan tetap berkumandang, walau dunia gaduh. Al-Qur’an tetap dibaca, walau berita perang berseliweran. Shalat tetap ditegakkan, walau ekonomi global tak pasti.


Ini bukan kebetulan. Ini adalah bukti bahwa Allah menjaga kehidupan hamba-Nya. Dunia mungkin dikendalikan oleh kekuatan besar, tapi kehidupan manusia tetap dalam kendali Allah.

Kembali Menambatkan Hati

Barangkali yang perlu kita tanyakan bukan: “Apa yang sedang terjadi di dunia?” Tapi: “Di mana posisi hati kita di tengah semua ini?” Apakah kita termasuk orang yang ikut gelisah bersama dunia? Ataukah kita termasuk orang yang tetap tenang karena bersama Allah?

Pada akhirnya, bukan perang yang paling menentukan hidup kita. Bukan pula harga minyak dunia.
Tapi sejauh mana hati kita terikat kepada Allah. 

Dunia boleh gaduh oleh perang dan kepentingan, tapi Allah tetap menurunkan ketenangan kepada hamba-Nya. 

Ada yang sibuk menghitung harga minyak dunia, dan ada yang sibuk menghitung rakaat shalatnya.
Dan seringkali…yang kedua itulah yang lebih selamat. ***

(Penulis adalah pimpinan Baznas Kabupaten Bulukumba, Sulsel, 2017-2022)