Ramadhan selalu datang dengan dua wajah. Di satu sisi, masjid dipenuhi oleh jamaah yang rindu sujud, tilawah, dan i’tikaf. Namun di sisi lain, kita juga menyaksikan fenomena yang tidak kalah mencolok: warkop dan kafe yang ramai hingga larut malam, bahkan menjelang sahur.
![]() |
| Ilustrasi: Pixabay.com |
Sebagian orang menghabiskan malam Ramadhan dengan obrolan panjang, gelak tawa, dan aktivitas yang jauh dari ruh ibadah. Sementara itu, sebagian masjid justru mulai lengang, terutama di malam-malam akhir yang seharusnya paling istimewa.
Pertanyaannya, bagaimana kita menyikapi ini?
Antara Kegelisahan dan Cara Pandang
Tidak salah jika hati kita gelisah. Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya terdapat malam yang lebih baik dari seribu bulan. Setiap detik seharusnya bernilai ibadah. Maka wajar jika muncul kegundahan saat melihat waktu-waktu mulia itu terlewatkan begitu saja.
BACA JUGA: Menelisik Dua Nabi yang Disebut Awwab
Namun persoalannya bukan hanya pada fenomena itu sendiri, melainkan cara kita memandang pelakunya. Apakah kita melihat mereka sebagai “orang-orang yang rusak”? Ataukah sebagai saudara seiman yang sedang jauh, tapi masih punya peluang untuk kembali?
Di sinilah letak perbedaan antara dakwah yang menghakimi dan dakwah yang menghidupkan.
Maksiat Ditolak, Pelaku Didoakan
Islam mengajarkan keseimbangan yang indah: membenci kemaksiatan, namun tidak menutup pintu kasih sayang kepada pelakunya.
Seorang ulama besar, Ibn Taymiyyah, menjelaskan bahwa seorang mukmin mencintai kebaikan bagi manusia dan membenci keburukan yang ada pada mereka. Artinya, penolakan terhadap dosa tidak harus berubah menjadi kebencian total kepada pelaku.
Maka ketika kita melihat orang-orang yang menghabiskan malam Ramadhan di warkop, sikap yang benar bukan sekadar mencela, tetapi juga mendoakan. Karena bisa jadi, orang yang hari ini lalai, esok justru menjadi lebih dekat kepada Allah daripada kita.
Doa, Senjata Sunyi dalam Dakwah
Seringkali kita merasa dakwah hanya terjadi di mimbar, dalam ceramah panjang, atau nasihat langsung. Padahal ada satu bentuk dakwah yang jarang terlihat, namun sangat kuat pengaruhnya: doa.
Ketika melihat keramaian warkop di malam Ramadhan, mungkin lisan kita diam. Tapi hati kita bisa berdoa: “Ya Allah, sebagaimana Engkau kumpulkan mereka di tempat ini, kumpulkan pula mereka di rumah-Mu.”
Doa seperti ini sederhana, tapi memiliki kedalaman makna: Mengandung harapan, bukan kemarahan; mengandung kasih sayang, bukan penghakiman.
Dan, boleh jadi, doa yang lirih itu lebih tajam daripada seribu kata yang keras.
Jangan Tertipu dengan Rasa Lebih Baik
Ada penyakit halus yang sering muncul saat melihat kemaksiatan: merasa lebih baik.
“Alhamdulillah saya di masjid, bukan di sana.”
Kalimat ini terlihat baik, tapi jika tidak hati-hati, bisa berubah menjadi benih kesombongan. Padahal kita tidak pernah tahu: bagaimana akhir hidup kita, dan bagaimana akhir hidup mereka?
Bisa jadi kita istiqamah secara lahir, tapi kurang ikhlas. Dan, bisa jadi mereka yang lalai hari ini, suatu saat menangis dalam taubat yang lebih tulus.
Karena itu, selain mendoakan orang lain, kita juga perlu berdoa untuk diri sendiri: “Ya Allah, jangan Engkau palingkan hati kami setelah Engkau beri hidayah.”
Ramadhan Masih Menyisakan Harapan
Fenomena warkop yang ramai tidak selalu berarti hilangnya iman. Banyak dari mereka tetap berpuasa di siang hari, bangun untuk sahur, dan masih memiliki keterikatan dengan Ramadhan, meski lemah. Ini adalah tanda bahwa pintu hidayah belum tertutup.
Tugas kita bukan menutup pintu itu dengan celaan, tapi membukanya lebih lebar dengan doa dan pendekatan.
Dakwah yang Menghidupkan
Kita tidak bisa memaksa semua orang berubah dalam satu malam. Tapi kita bisa memilih cara berdakwah: Menjadi hakim yang sibuk menyalahkan, atau menjadi da’i yang sabar mendoakan.
Dakwah yang menghidupkan adalah dakwah yang tegas pada prinsip, lembut pada manusia, dan tidak pernah putus harapan.
Ramadhan bukan hanya tentang memperbaiki diri, tapi juga tentang memperluas kepedulian. Maka, ketika melihat warkop lebih ramai dari masjid, jangan berhenti pada kegelisahan. Jangan pula tenggelam dalam celaan.
Angkatlah tangan, walau dalam diam. Karena bisa jadi, orang yang kita lihat tertawa di warkop malam ini, akan menjadi orang yang paling khusyuk sujudnya di hadapan Allah di suatu malam yang kita tidak sangka.
Dan mungkin, semua itu berawal dari satu doa yang tidak pernah kita remehkan.
(Penulis adalah mantan Komisioner BAZNAS Kab. Bulukumba, Sulsel)
Dan mungkin, semua itu berawal dari satu doa yang tidak pernah kita remehkan.
(Penulis adalah mantan Komisioner BAZNAS Kab. Bulukumba, Sulsel)
