Nyamuk, atau Culicidae, adalah sebuah family lalat kecil yang terdiri atas 3.600 spesies, berasal dari bahasa Spanyol dan Portugis yang berarti lalat kecil. Nyamuk memiliki tubuh beruas yang ramping, sepasang sayap, tiga pasang kaki panjang serupa rambut, serta alat mulut khusus yang sangat panjang untuk menusuk dan mengisap.
Nyamuk dikenal luas sebagai binatang paling mematikan di dunia yang menyebabkan kematian pada manusia jika dibandingkan dengan binatang lain seperti hiu atau ular. Serangga kecil ini diketahui membunuh lebih dari 700.000 orang setiap tahunnya dan merupakan penyebab utama penyakit menular di seluruh dunia, termasuk Dengue, Zika dan Malaria. Namun di balik semua itu, ternyata Allah titipkan bagian kecil dari kebesaran-Nya pada makhluk kecil ini.
Kita kira, makanan pokok nyamuk itu adalah darah manusia. Mereka nekat menghisap darah sampai beresiko mati ditepuk. Coba kita perhatikan kode ‘Ta’ Marbutah’ pada ayat berikut :
اِنَّ اللّٰهَ لَا يَسْتَحْيٖٓ اَنْ يَّضْرِبَ مَثَلًا مَّا بَعُوْضَةً فَمَا فَوْقَهَاَ
“Sesungguhnya Allah tidak segan membuat perumpamaan seekor nyamuk atau yang lebih kecil daripada itu.” (Al-Baqarah [2]: 26)
Allah menggunakan akhiran Ta’ Marbutah, yang secara gramatika bahasa Arab justru menunjukan bentuk tunggal betina (female).
Secara ilmiah, nyamuk sejatinya adalah serangga Nectarivore (pemakan nectar/sari bunga). Nyamuk jantan 100% vegetarian. Mereka hidup damai menghisap sari bunga dan tidak pernah menggangu manusia.
Nyamuk betina pun sehari-harinya makan nectar untuk energi (gula). Jika mereka memakan nectar kenapa harus menghisap darah? Gula mengandung karbohidrat sedangkan darah mengandung protein dan zat besi. Jawabnnya untuk anak-anaknya.
Nectar bunga hanya mengandung gula, tidak ada protein. Untuk memproduksi telur, nyamuk betina butuh asupan protein dan zat besi yang tinggi dan itu tidak ada di bunga. Jadi darah manusia bukan untuk dimakan, bukan untuk dicerna jadi energi (kenyang), tapi murni disimpan untuk nutrisi pematangan telur di rahimnya.
Nectar bunga hanya mengandung gula, tidak ada protein. Untuk memproduksi telur, nyamuk betina butuh asupan protein dan zat besi yang tinggi dan itu tidak ada di bunga. Jadi darah manusia bukan untuk dimakan, bukan untuk dicerna jadi energi (kenyang), tapi murni disimpan untuk nutrisi pematangan telur di rahimnya.
Jadi, saat nyamuk betina menggigit, dia sebenarnya sedang bertaruh nyawa. Dia berani mati di tangan raksasa bukan karena lapar, tapi demi kelangsungan hidup generasi penerusnya.
Kenapa Allah menggunkan kata ‘ta marbutah" pada ayat tadi? Karena hanya nyamuk betina yang menjadi ‘gangguan’ yang menghisap, yang menyebarkan penyakit (vector). Nyamuk jantan tidak relevan dengan konteks interaksi dengan manusia. Tapi nyamuk betina sangat presisi.
Bahkan, pada hewan yang kita anggap paling menggangu sekalipun, Allah menitipkan naluri kasih sayang dan cinta seorang ibu (motherhood) yang luar biasa. Nyamuk betina rela menjadi ‘monster’ dan mati demi anak-anaknya bisa lahir.
Kenapa Allah menggunkan kata ‘ta marbutah" pada ayat tadi? Karena hanya nyamuk betina yang menjadi ‘gangguan’ yang menghisap, yang menyebarkan penyakit (vector). Nyamuk jantan tidak relevan dengan konteks interaksi dengan manusia. Tapi nyamuk betina sangat presisi.
Bahkan, pada hewan yang kita anggap paling menggangu sekalipun, Allah menitipkan naluri kasih sayang dan cinta seorang ibu (motherhood) yang luar biasa. Nyamuk betina rela menjadi ‘monster’ dan mati demi anak-anaknya bisa lahir.
Siapa sangka satu huruf kecil dalam Al-Qur’an menyimpan detail biologis yang sangat presisi. Ta’ marbutah di ujung kata itu memisahkan fakta biologis antara nyamuk jantan daan betina.
Ini menjadi bukti bahwa tidak ada satu pun perumpamaan Allah Ta'ala yang sia-sia, bahkan pada makhluk sekecil nyamuk sekalipun. ***
Ini menjadi bukti bahwa tidak ada satu pun perumpamaan Allah Ta'ala yang sia-sia, bahkan pada makhluk sekecil nyamuk sekalipun. ***
(Penulis adalah mahasiswi STID M Natsir, Jakarta)