Ada sesuatu yang seharusnya membuat kita berhenti sejenak dan bertanya kepada diri sendiri. Mengapa sebagian orang yang sebelumnya bukan Muslim, ketika membaca Al-Qur’an dengan terjemahannya, justru menemukan jalan menuju Islam?
Mereka tidak lahir sebagai Muslim. Mereka tidak tumbuh dengan suara adzan. Mereka tidak terbiasa membaca Al-Fatihah sejak kecil. Mereka bahkan datang kepada Al-Qur’an dengan berbagai pertanyaan, keraguan, bahkan prasangka terhadap Islam.
Tetapi ketika mereka membaca, memahami dan merenungkannya, sebagian menemukan sesuatu yang selama ini mereka cari: kebenaran dan petunjuk.
Al-Qur’an Menjawab Pertanyaan Besar
Salah satu contohnya adalah Felix Siauw. Ia dibesarkan dalam lingkungan Katolik, kemudian sempat mengalami fase tidak beragama. Dalam perjalanan mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan mendasar tentang kehidupan, ia berkenalan dengan Islam dan mulai mengenal Al-Qur’an. Ia kemudian menceritakan bahwa Al-Qur’an menjawab pertanyaan tentang dari mana manusia berasal, untuk apa hidup, dan ke mana manusia akan kembali.
Dalam penuturannya, Al-Qur’an membuatnya sampai pada kesimpulan bahwa manusia berasal dari Sang Pencipta, hidup untuk beribadah kepada-Nya, dan setelah kehidupan dunia akan kembali kepada Allah untuk mempertanggungjawabkan amalnya.
Bahkan dalam salah satu penjelasannya tentang alasan memilih Islam, Felix menekankan bahwa Islam mengajak manusia berpikir, dan ia mengaitkannya dengan banyaknya ayat Al-Qur’an yang mengajak manusia menggunakan akal.
Coba kita renungkan. Ia menemukan jawaban melalui Al-Qur’an setelah mencarinya. Sedangkan kita? Al-Qur’an sudah ada di rumah kita sejak kecil. Tetapi apakah kita sudah membacanya dengan pemahaman?
Dalam penuturannya, Al-Qur’an membuatnya sampai pada kesimpulan bahwa manusia berasal dari Sang Pencipta, hidup untuk beribadah kepada-Nya, dan setelah kehidupan dunia akan kembali kepada Allah untuk mempertanggungjawabkan amalnya.
Bahkan dalam salah satu penjelasannya tentang alasan memilih Islam, Felix menekankan bahwa Islam mengajak manusia berpikir, dan ia mengaitkannya dengan banyaknya ayat Al-Qur’an yang mengajak manusia menggunakan akal.
Coba kita renungkan. Ia menemukan jawaban melalui Al-Qur’an setelah mencarinya. Sedangkan kita? Al-Qur’an sudah ada di rumah kita sejak kecil. Tetapi apakah kita sudah membacanya dengan pemahaman?
"Jawaban Saya Telah Datang"
Kisah Yusuf Islam, yang dahulu dikenal sebagai penyanyi Cat Stevens, juga sangat menarik. Ia sedang mencari jawaban tentang kehidupan dan tujuan manusia. Kemudian saudaranya memberinya sebuah Al-Qur’an.
Ia membacanya. Dan, al-Qur’an membuatnya menemukan jawaban yang selama ini ia cari. Dalam kisah yang ia tuliskan sendiri, ia menjelaskan bahwa Al-Fatihah memberinya pemahaman tentang tujuan keberadaan manusia, jalan yang harus ditempuh, dan kemudian ayat-ayat al-Qur’an menjelaskan bagaimana menjalani jalan tersebut. Ia akhirnya mengucapkan syahadat dan memeluk Islam pada 1977.
Dalam kesaksian lainnya, Yusuf Islam menggambarkan al-Qur’an sebagai kitab yang memberinya petunjuk tentang siapa dirinya, tujuan hidup, realitas kehidupan, dari mana ia berasal dan ke mana ia akan kembali.
Perhatikan baik-baik. Dia membaca terjemahan Al-Qur’an karena belum mampu membaca bahasa Arab. Terjemahan itu menjadi pintu yang membawanya mengenal Islam.
Menjadi Penerjemah Makna Al-Qur’an
Ada pula Muhammad Marmaduke Pickthall, seorang Inggris yang kemudian masuk Islam dan dikenal sebagai salah satu penerjemah Al-Qur’an ke dalam bahasa Inggris. Ia menghasilkan The Meaning of the Glorious Koran pada 1930.
Kisah Pickthall mengingatkan kita bahwa orang dari dunia yang sama sekali berbeda dapat begitu serius mendekati al-Qur’an sampai kemudian mendedikasikan kemampuan intelektualnya untuk membantu orang lain memahami maknanya.
Menjadi Penerjemah Makna Al-Qur’an
Ada pula Muhammad Marmaduke Pickthall, seorang Inggris yang kemudian masuk Islam dan dikenal sebagai salah satu penerjemah Al-Qur’an ke dalam bahasa Inggris. Ia menghasilkan The Meaning of the Glorious Koran pada 1930.
Kisah Pickthall mengingatkan kita bahwa orang dari dunia yang sama sekali berbeda dapat begitu serius mendekati al-Qur’an sampai kemudian mendedikasikan kemampuan intelektualnya untuk membantu orang lain memahami maknanya.
Lalu bagaimana dengan kita? Di sinilah teguran itu seharusnya diarahkan kepada diri sendiri.
Kita sering berkata, "Saya cinta al-Qur’an." Tetapi apakah cinta hanya dengan menyimpannya?
Kita berkata, "Saya setiap hari membaca al-Qur’an." Tetapi apakah kita tahu apa yang kita baca? Kita bangga bisa khatam berkali-kali. Tetapi apakah kita pernah khatam membaca terjemahannya?
Jangan salah memahami. Membaca Al-Qur’an dalam bahasa Arab tetap sangat penting dan merupakan ibadah. Tetapi bagi kita yang tidak memahami bahasa Arab, membaca terjemahan adalah salah satu jalan untuk mengetahui pesan ayat yang kita baca.
Allah berfirman:
Kita sering berkata, "Saya cinta al-Qur’an." Tetapi apakah cinta hanya dengan menyimpannya?
Kita berkata, "Saya setiap hari membaca al-Qur’an." Tetapi apakah kita tahu apa yang kita baca? Kita bangga bisa khatam berkali-kali. Tetapi apakah kita pernah khatam membaca terjemahannya?
Jangan salah memahami. Membaca Al-Qur’an dalam bahasa Arab tetap sangat penting dan merupakan ibadah. Tetapi bagi kita yang tidak memahami bahasa Arab, membaca terjemahan adalah salah satu jalan untuk mengetahui pesan ayat yang kita baca.
Allah berfirman:
كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ
"Ini adalah Kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh berkah agar mereka mentadabburi ayat-ayatnya dan agar orang-orang yang berakal sehat mendapat pelajaran," (Shad: 29).
Ayat ini mengingatkan bahwa al-Qur’an bukan sekadar untuk dibunyikan oleh lisan. Ada tadabbur. Ada pemahaman. Ada peringatan. Dan akhirnya, ada amal.
Maka mari kita ubah kebiasaan: Setelah membaca beberapa halaman al-Qur’an, baca pula terjemahannya. Jangan hanya bertanya: "Sudah berapa halaman saya baca hari ini?" Tetapi tanyakan juga: "Apa yang Allah sampaikan kepada saya hari ini?"
Mungkin orang non-Muslim membaca terjemahan al-Qur’an lalu menemukan hidayah. Maka sungguh ironis bila seorang Muslim membaca al-Qur’an bertahun-tahun tetapi tidak pernah sungguh-sungguh berusaha memahami pesan Allah kepadanya.
Jangan hanya khatam bacaannya. Usahakan khatam memahami pesannya.
Jangan hanya fasih melafalkannya. Usahakan hidup kita juga fasih mengamalkannya. Sebab Al-Qur’an bukan hanya kitab yang kita baca.
Al-Qur’an adalah petunjuk yang seharusnya mengubah cara kita berpikir, bersikap, beribadah dan menjalani kehidupan. *
(Penulis adalah Komisioner BAZNAS Kabupaten Bulukumba 2017-2022)
Al-Qur’an adalah petunjuk yang seharusnya mengubah cara kita berpikir, bersikap, beribadah dan menjalani kehidupan. *
(Penulis adalah Komisioner BAZNAS Kabupaten Bulukumba 2017-2022)
